Minggu, 03 Februari 2013

jurnal prilaku konsumen


Buletin Peternakan Vol. 35(2): 137-142, Juni 2011 ISSN 0126-4400

PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN BAKSO DI MALANG
THE CONSUMERS` BEHAVIOR IN PURCHASING MEATBALLS IN MALANG

Budi Hartono*, Umi Wisapti Ningsih, dan Nila Fithria Septiarini
Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, Malang, Jawa Timur

INTISARI
Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik dan faktor yang mempengaruhi pembelian
bakso sapi di Malang. Penelitian dilakukan di Malang, Jawa Timur pada bulan Maret 2011. Jumlah responden sebanyak
120 konsumen yang dipilih secara Accidental Sampling. Data dianalisis dengan cara deskriptif dan analisis faktor. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden melakukan pembelian bakso adalah perempuan, berstatus
pelajar, mempunyai umur di bawah 35 tahun, pendapatan individu yang diperoleh antara Rp. 1.000.000,00 sampai Rp.
2.000.000,00 per bulan dan harga bakso dikategorikan terjangkau oleh konsumen. Pola mengkonsumsi bakso bukan
sebagai makanan pokok tetapi sebagai kuliner, hobi, dan makanan camilan. Delapan faktor yang dipertimbangkan
responden secara berurutan adalah harga, kelas sosial, kemudahan mencapai lokasi, parkir, tampilan penyajian,
kepuasan, pendapatan, dan demografi.
(Kata kunci: Perilaku konsumen, Faktor yang dipertimbangkan, Bakso)

ABSTRACT
The objective of this research were to analyzed the characteristics and the factors influencing the purchasing of
meatballs in Malang. The research was conducted in Malang, East Java in March 2011. One hundred and twenty
consumers were chosen as respondents by Accidental Sampling method. Data were analyzed by descriptive and factor
analyses. The results showed that most customers were women, student status, with the age below 35 years old, and
incomes level of IDR 1.000.000,00 into IDR 2.000.000,00 per month. The meatball`s price was affordable by the
consumers. The meatball`s purchasing patterns showed that the meatball was consumed not as a main meal but only for
culinary, hobby and also as snacks. The eight factors considered by consumers of meatball purchasing consecutively
were price, social class, accessibility, parking, display presentation, satisfaction, income and demographics,
respectively.
(Key words: Consumer`s behavior, Considerance factor, Meatball)

Pendahuluan
Kota Malang juga dikenal sebagai kota Bakso
selain kota Apel. Bakso merupakan makanan
daging sapi yang dicampur dengan terigu yang
dimasak dengan proses tertentu untuk dikonsumsi.
Bakso sangat populer dan digemari semua kalangan
dengan harga yang bervariasi dan terjangkau oleh
konsumen. Tarwotjo et al. (1971) menjelaskan
bahwa bakso daging sapi merupakan sumber protein
hewani karena daging sapi mengandung protein
yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Usaha
bakso membutuhkan tenaga kerja mulai dari lokasi
penggilingan, sampai daerah produsen dan pemasaran.
Bakso dibuat menggunakan daging segar
agar dihasilkan bakso yang kenyal dan kompak.
Bahan baku bakso umumnya berasal dari daging
_________________________________
* Korespondensi (corresponding author):
Telp. +62 815 689 5246
E-mail: budihartono_ub@yahoo.com

paha belakang sapi, akan tetapi dapat juga dibuat
dari bagian karkas lainnya.
Usaha bakso dapat digolongkan sebagai
usaha kecil. Parubak et al. (2004) menjelaskan
bahwa usaha kecil mempunyai peranan penting dan
strategis dalam mewujudkan pembangunan nasional.
Usaha kecil merupakan usaha yang ditekuni
oleh sebagian besar masyarakat dan merupakan
usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan
memberikan pelayanan yang luas kepada masyarakat.
Pemerintah terus berupaya membina kelompok
usaha kecil agar menjadi usaha yang
semakin efisien dan mampu berkembang mandiri
dan dapat membuka lapangan kerja baru.
Dua faktor yang mempengaruhi pengambilan
keputusan konsumen dalam melakukan pembelian
yaitu faktor internal dan faktor eksternal
(Asseal, 1992). Faktor eksternal terdiri dari faktor
137
lingkungan dan strategi bauran pemasaran. Faktor
lingkungan terdiri dari faktor budaya, referensi dan
kelas sosial. Strategi bauran pemasaran terdiri dari
produk, harga, promosi, dan distribusi. Faktor
internal terdiri dari faktor gagasan dan karakteristik
konsumen. Faktor internal dan eksternal dalam
interaksinya dapat mempengaruhi perilaku konsumen
baik secara individual maupun secara
bersama-sama.
Konsumen melakukan pembelian tidak
terlepas dari karakteristik produk baik mengenai
penampilan, gaya, mutu dan harga dari produk
tersebut. Penetapan harga oleh penjual akan berpengaruh
terhadap perilaku pembelian konsumen,
sebab harga yang dapat dijangkau oleh konsumen
akan cenderung membuat konsumen melakukan
pembelian terhadap produk tersebut. Karakteristik
penjualan bakso akan mempengaruhi keputusan
membeli. Konsumen akan menilai mengenai
penjual, baik mengenai pelayanan, mudahnya memperoleh
produk dan sikap ramah dari penjual
(Tedjakusuma et al., 2001).
Penjual bakso harus memahami keinginan
konsumen dengan cara mempelajari perilaku
konsumen agar konsumen bersedia membeli
baksonya. Pemahaman perilaku konsumen yang
baik dan tepat diharapkan akan mengembangkan
kegiatan pemasarannya. Penjual bakso daging perlu
mengenal konsumen, sasaran dan model keputusan
yang dilakukan oleh konsumen, sehingga penjual
bakso daging mengetahui motif konsumen dalam
menilai bakso daging yang sesuai dengan hati
nuraninya. Analisis faktor digunakan untuk
menentukan urutan faktor yang dipertimbangkan
oleh konsumen dalam membeli bakso daging di
Kota Malang, sehingga perlu dilakukan penelitian
agar penjual bakso dapat mempertahankan
eksistensinya.

Materi dan Metode

Penelitian dilakukan dengan metode survei di
Kota Malang dengan pertimbangan bahwa Kota
Malang dikenal sebagai Kota Bakso. Pengambilan
data dilaksanakan pada bulan Maret 2011 di lima
lokasi terbesar yang diambil secara purposive
sampling yaitu Bakso Solo Kidul Pasar, Bakso Kota
Cak Man, Bakso Bakar Pahlawan Trip, Bakso
Presiden dan Bakso Duro Kepanjen. Jumlah sampel
sebanyak 120 responden yang diambil secara
Accidental Sampling. Pengumpulan data primer
dengan melakukan tanya jawab dengan responden
berdasarkan kuesioner yang telah dipersiapkan.
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk
mendiskripsikan karakteristik responden yang
diteliti serta distribusi item dari tiap variabel dalam
angka persentase. Analisis faktor digunakan untuk
menentukan urutan faktor yang dipertimbangkan
oleh konsumen dalam membeli bakso. Jenis data
yang digunakan analisis faktor adalah data ordinal
dan skala pengukuran yang digunakan adalah skala
Likert.

Hasil dan Pembahasan
Gambaran umum responden

Hasil survei menunjukkan bahwa usia
konsumen yang mendominasi adalah kelompok usia
16–25 tahun sebanyak 62,5% dan usia 26–35 tahun
sebanyak 25,83% (Tabel 1). Kelompok usia ini
tergolong usia produktif sehingga memerlukan
kandungan nutrisi yang cukup bagi tubuh dan
perlunya menjaga kesehatan. Konsumen pada usia
muda (remaja) dipengaruhi oleh aktifitas yang
ditekuninya, teman-teman, dan penampilan dari
generasi tersebut. Usia responden diatas 45 tahun
lebih sedikit dikarenakan pada usia ini seseorang
lebih berhati-hati dalam memilih dan mengkonsumsi
makanan yaitu lebih memilih makanan
yang terbuat dari sayur-mayur (Kasali, 1998 cit.
Hermanianto dan Andayani, 2002).
Hasil survei menunjukkan (Tabel 2) bahwa
responden perempuan (53,33%) lebih banyak
dijumpai dibanding laki-laki (46,67%) karena
perempuan mempunyai kecenderungan senang
berkumpul dan sering secara bersama-sama membeli
atau jajan bakso dengan tidak direncanakan.
Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil
penelitian Hermanianto dan Andayani (2002) yang
menjelaskan bahwa pembeli bakso lebih didominasi
kaum perempuan karena perempuan mempunyai
kecenderungan lebih senang berbelanja, mudah
terpengaruh oleh emosi dan menyukai jajan atau
ngemil. Alasan ini yang melatarbelakangi wanita
sebagai konsumen terbesar bakso sapi.
Tabel 1. Karakteristik responden berdasarkan usia
(characteristics of respondents by the age)
Usia (tahun) (age (years)) Persentase (percentage)
16 – 25 62,50
26 – 35 25,83
36 – 45 9,17
46 – 55 1,67
56 – 65 0,83
Jumlah (total) 100,00
Tabel 2. Karakteristik responden berdasarkan jenis
kelamin (characteristics of respondents by sex)
Jenis kelamin (sex) Persentase (percentage)
Laki-laki (male) 46,67
Perempuan (female) 53,33
Jumlah (total) 100,00
138
Kelompok sasaran berdasarkan pendidikan
yang ditempuh konsumen menunjukkan bahwa
sebanyak 44,17% responden memiliki pendidikan
akhir SMU dan 39,17% responden memiliki pendidikan
akhir sarjana (Tabel 3), sehingga sebagian
besar konsumen adalah berpendidikan tinggi dan
terpelajar. Pendidikan sebagai faktor psikologis
yang berpengaruh terhadap jenis dan mutu bahan
makanan yang akan dikonsumsi. Hal ini memperlihatkan
bahwa tingkat pemahaman dan pengetahuan
seseorang tentang pentingnya kandungan
gizi dipengaruhi oleh tingkat pendidikan (Kasali,
1998 cit. Hermanianto dan Andayani, 2002).
Data berdasarkan alasan konsumen membeli
bakso menunjukkan bahwa mayoritas konsumen
mengkonsumsi bakso karena bukan sebagai makanan
utama (3,33%) tetapi sebagai kuliner, hobi,
makanan camilan (Tabel 4). Konsumen membeli
bakso kuah umumnya dicampur dengan makanan
lain seperti gorengan, tahu atau sedikit mie basah.
Responden membeli bakso biasanya di tempat terkenal
dan memiliki rasa yang sesuai dengan selera
konsumen.
Produk bakso tetap digemari oleh konsumen.
Karakteristik utama responden dalam membeli
bakso adalah daya beli konsumen yang dapat diperhatikan
dari penghasilan yang diperoleh konsumen
setiap bulan. Kebanyakan konsumen membeli bakso
selain memperhatikan harga juga memperhatikan
cara penyajian yang cepat dan praktis. Rerata harga
bakso satu porsi di Malang Rp. 5.000,00. Hasil
survei menunjukkan bahwa harga satu porsi bakso
tersebut adalah sedang (Tabel 5) atau cukup yang
berarti tidak terlalu mahal ataupun tidak terlalu
murah, sedangkan bakso tersebut dianggap konsumen
bukan sebagai makanan utama.
Analisis faktor
Hasil analisis faktor perilaku konsumen
dalam pembelian bakso di Malang menghasilkan 8
faktor yang terbentuk (Tabel 7). Tabel 7 memperlihatkan
bahwa faktor-faktor yang terbentuk
merupakan faktor yang dipertimbangkan konsumen
dalam pembelian bakso di Malang sebesar 63,76%
dan sisanya sebesar 37,14% merupakan faktorfaktor
yang tidak terlalu dipertimbangkan oleh
konsumen. Untuk lebih jelasnya akan dibahas
interpretasi tiap faktor dari kedelapan faktor yang
terbentuk (Tabel 7).
Faktor persepsi konsumen merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen
dalam membeli produk bakso daging sapi memiliki
persentase varian sebesar 16,69% dan merupakan
urutan pertama yang dipertimbangkan oleh konsumen
karena mempunyai nilai Eigen Value terbesar
yaitu 3,672. Variabel yang memiliki factor
loading terbesar pada persepsi konsumen adalah
variabel harga yaitu sebesar 0,717 yang artinya
variabel harga memiliki korelasi sangat kuat
terhadap faktor persepsi konsumen. Responden
Tabel 3. Karakteristik responden berdasarkan
pendidikan (characteristics of respondents by
education)
Tabel 4. Karakteristik responden berdasarkan alasan
mengkonsumsi bakso (characteristics of respondents
by reasons consuming meatballs)
Tabel 5. Karakteristik responden berdasarkan harga
(characteristics of respondents by price)
Tabel 6. Karakteristik responden berdasarkan
pendapatan (characteristics of respondents by income)
Pendidikan (education)
Persentase
(percentage)
SD/Sederajat (elementary school) 0,83
SMP/Sederajat (junior high school) 5,83
SMU/Sederajat (senior high school) 44,17
Akademi/Sederajat (academy) 10,00
Sarjana (under/graduate school) 39,17
Jumlah (total) 100,00
Alasan mengkonsumsi bakso
(reason consuming meatballs)
Persentase
(percentage)
Makanan utama (the main food) 3,33
Makanan camilan (snack foods) 31,67
Hobi (hobby) 31,67
Kuliner (culinary) 33,33
Jumlah (total) 100,00
Harga (price)
Persentase
(percentage)
Sangat mahal (very expensive) 3,33
Mahal (expensive) 13,33
Sedang (medium) 57,50
Murah (cheap) 19,17
Sangat murah (very cheap) 6,67
Jumlah (total) 100,00
Pendapatan (Rp) (income (Rp))
Persentase
(percentage)
< 500.000 21,67
500.000 – 1.000.000 13,33
1.000.001 – 1.500.000 28,33
1.500.001 – 2.000.000 24,17
> 2.000.000 12,50
Jumlah (total) 100,00
139
Budi Hartono et al. Perilaku Konsumen dalam Pembelian Bakso di Malang
Tabel 7. Analisis faktor perilaku konsumen dalam pembelian bakso (factor analysis of consumer behavior in
purchasing meatballs)
Faktor (factor) Variabel (variable) Eigen value Loading factor %
Persepsi konsumen
(consumer perception)
-Kepercayaan (confidence)
-Produk terkenal (famous products)
-Ukuran produk (size of product)
-Harga (price)
3,672
0,429
0,551
0,675
0,717
16,69
Lingkungan
(environment)
-Kebudayaan (culture)
-Kelas sosial (social class)
-Kelompok sosial (social groups)
2,048
0,680
0,741
0,729
9,31
Referensi (reference) -Pengetahuan (knowledge)
-Faktor promosi (promoting factor)
-Kemudahan mencapai lokasi (ease of reaching
the location)
1,915
0,577
0,623
0,814
8,71
Kepedulian produsen
(concern manufacturer)
-Kenyamanan (convenience)
-Tempat parkir (the parking lot)
-Kebersihan tempat (hygiene place)
-Pelayanan produsen (producer service)
1,529
0,486
0,780
0,758
0,482
6,95
Karakteristik produk
(characteristics of
product)
-Tampilan penyajian (view presentation)
-Rasa dan tekstur (the taste and texture) 1,526
0,924
0,609 6,94
Pengalaman (experience) -Kepuasan sebelumnya (previous satisfaction)
-Hobi (hobbies) 1,246
0,798
0,588 5,66
Kepuasan konsumen
(consumer satisfaction)
-Pendapatan (revenue)
-Kepribadian (personality) 1,054
0,748
0,716 4,79
Karakteristik konsumen
(characteristics of
consumers)
-Demografi (demographics) 1,036 0,767 4,71
Jumlah (total) 63,76
mempertimbangkan harga bakso karena menurut
penilaian responden tingkat harga akan mempengaruhi
jumlah pembelian suatu produk yang
akan dikonsumsi. Hal tersebut diperkuat dengan
penilaian harga tidak terlalu mahal untuk setiap
porsi bakso adalah Rp. 5.000,00 yang termasuk
kategori sedang (57,5%) (Tabel 5), sehingga apabila
harga bakso terlalu tinggi maka responden akan
mempertimbangkan ulang sebelum membeli produk
tersebut.
Faktor lingkungan memiliki persentase varian
sebesar 9,310% dan memiliki urutan kedua faktor
yang dipertimbangkan oleh konsumen dengan nilai
Eigen Value terbesar yaitu 2,048. Variabel yang
memiliki factor loading terbesar pada faktor
lingkungan adalah variabel kelas sosial sebesar
0,741 yang artinya bahwa variabel kelas sosial
memiliki korelasi kuat terhadap faktor lingkungan,
sedangkan variabel yang memiliki factor loading
terkecil adalah variabel kebudayaan sebesar 0,680
yang artinya bahwa variabel kebudayaan memiliki
korelasi paling lemah jika dibandingkan dengan
kedua variabel lain yang mendukung pada faktor
lingkungan.
Kebudayaan tidak terlalu dipertimbangkan
oleh responden, dikarenakan responden membeli
produk bakso bukan karena adat atau kebiasaan
masyarakat tertentu untuk mengkonsumsi produk
ini. Produk ini bukan menjadi makanan utama bagi
responden. Hal ini diperkuat dengan penilaian
responden bahwa produk bakso bukan menjadi
makanan utama hanya 3,33% (Tabel 5). Produk ini
dikonsumsi hanya sebagai kuliner, hobi, dan
makanan camilan.
Kelas sosial responden mempertimbangkan
untuk membeli produk bakso tersebut. Tingkat
penghasilan responden sangat berpengaruh terhadap
pembelian produk bakso. Penghasilan yang lebih
akan mempengaruhi kemudahan responden untuk
membeli produk tersebut. Hal ini diperkuat dengan
data responden yang memiliki penghasilan
Rp. 1.000.000,00 – Rp. 2.000.000,00 sebanyak
52,50% (Tabel 6) akan membeli produk tersebut
lebih mudah karena menganggap produk tersebut
memiliki harga yang relatif terjangkau.
Faktor referensi memiliki persentase varians
sebesar 8,707% merupakan faktor urutan ketiga
yang dipertimbangkan oleh konsumen dengan nilai
140
Buletin Peternakan Vol. 35(2): 137-142, Juni 2011 ISSN 0126-4400
Eigen Value terbesar yaitu 1,915. Variabel yang
memiliki factor loading terbesar adalah variabel
kemudahan mencapai lokasi sebesar 0,814 yang
artinya bahwa variabel kemudahan mencapai lokasi
memiliki korelasi kuat terhadap faktor referensi.
Faktor yang menyebabkan perilaku pembelian
seseorang bisa juga dipengaruhi oleh
referensi kelompok. Referensi kelompok adalah
kelompok sosial yang menjadi ukuran seseorang
(bukan anggota kelompok tersebut) untuk membentuk
kepribadian dan perilakunya (Sudarmiatin,
2009). Tingkat pengetahuan yang kurang pada
responden terhadap lokasi-lokasi pemasaran produk
bakso menjadi pertimbangan konsumen untuk
menerima pendapat atau masukan-masukan yang
diberikan oleh orang-orang disekitar responden.
Faktor promosi disini sangat berpengaruh terhadap
keputusan pembelian produk tersebut oleh responden.
Faktor promosi salah satunya yaitu tentang
kemudahan mencapai lokasi produk tersebut dipasarkan.
Kemudahan mencapai lokasi tersebut
sangat dipertimbangkan responden untuk membeli
produk tersebut, karena apabila lokasi tersebut sulit
dijangkau maka responden akan memilih lokasi
yang lainnya.
Faktor kepedulian produsen memiliki persentase
varians sebesar 6,951% dan memiliki urutan
keempat faktor yang dipertimbangkan oleh konsumen
dengan nilai Eigen Value terbesar yaitu
1,529. Variabel yang memiliki factor loading terbesar
adalah variabel tempat parkir sebesar 0,780
yang artinya bahwa variabel tempat parkir memiliki
korelasi kuat terhadap faktor kepedulian produsen.
Tempat parkir pada lokasi penjualan produk
sangat dipertimbangkan oleh responden, karena
konsumen akan lebih merasa nyaman jika pada saat
menikmati bakso, kendaraan yang diparkir terletak
pada tempat yang aman dan diawasi oleh petugas
parkir. Sulistyawati (2004), menyatakan bahwa tersedianya
sarana parkir yang memadai dan aman
merupakan faktor yang mempengaruhi konsumen
dalam pembelian suatu produk, karena hal ini dapat
memberikan keamanan dan kenyamanan terutama
dari gangguan pengamen, pedagang asongan dan
pengemis.
Kebersihan tempat juga dipertimbangkan
oleh responden, karena lokasi yang bersih, sarana
dan prasarana yang bersih, serta sirkulasi udara
yang lancar akan menambah nafsu makan responden.
Kebersihan tempat merupakan salah satu
yang harus diperhatikan oleh pemilik usaha produk
tersebut dikarenakan apabila tempat penyajian
produk tidak bersih akan menyebabkan penyebaran
penyakit yang ditularkan oleh konsumen kepada
konsumen yang lainnya.
Faktor karakteristik produk memiliki persentase
varian sebesar 6,938%. Variabel tampilan penyajian
memiliki factor loading terbesar 0,924
bahwa variabel tampilan penyajian memiliki
korelasi kuat terhadap faktor karakteristik produk.
Tampilan penyajian suatu produk sangat
dipertimbangkan oleh responden dalam membeli
bakso daging sapi. Penyajian produk yang diberikan
pada responden kurang menarik akan
mengurangi selera makan responden begitu juga
sebaliknya jika penyajian produk terlihat menarik
maka responden akan bertambah selera makan.
Tampilan penyajian suatu produk sangat berkaitan
dengan rasa dan tekstur produk yang disajikan.
Faktor pengalaman memiliki persentase
varian sebesar 5,663%. Variabel yang memiliki
factor loading terbesar adalah variabel kepuasan
sebelumnya sebesar 0,798 yang artinya bahwa
variabel kepuasan sebelumnya memiliki korelasi
kuat terhadap faktor pengalaman.
Kepuasan pembelian produk sebelumnya
merupakan salah satu hal yang sangat dipertimbangkan
oleh responden dalam pembelian produk
tersebut. Hal ini dikarenakan pengalaman pembelian
produk sebelumnya akan menjadi kesan
tersendiri bagi para responden. Apabila responden
merasa puas pada saat membeli produk sebelumnya
maka responden akan membeli produk tersebut
kembali. Selain itu hobi merupakan suatu hal yang
berpengaruh terhadap responden dalam pembelian
produk tersebut karena produk bakso daging sapi
merupakan makanan yang banyak digemari oleh
berbagai kalangan masyarakat sehingga banyak
responden yang membeli produk tersebut karena
kesenangan atau hobi mengkonsumsi produk
tersebut.
Faktor kepuasan konsumen memiliki persentase
varian sebesar 4,790%. Variabel yang memiliki
factor loading terbesar adalah variabel pendapatan
sebesar 0,748 yang artinya bahwa variabel ini memiliki
korelasi kuat terhadap faktor kepuasan
konsumen.
Pendapatan berkaitan dalam mempertimbangkan
pembelian produk bakso. Responden yang memiliki
pendapatan lebih banyak cenderung memiliki
kepribadian yang boros atau lebih mudah
menghambur-hamburkan uang untuk mendapatkan
kepuasan, sehingga responden lebih banyak membeli
produk tersebut untuk memenuhi kepuasan
mengkonsumsi produk tersebut. Sebaliknya jika
responden berpenghasilan lebih sedikit cenderung
memiliki kepribadian yang lebih terkendali
sehingga para responden tidak hanya memikirkan
kepuasan semata. Sulistyawati (2004) menyatakan
bahwa tingkat pendapatan juga mempunyai
pengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.
Pendapatan yang dimaksud disini adalah pendapatan
individu konsumen. Pendapatan menjadi
hal yang sangat penting karena keputusan pem-
141
Budi Hartono et al. Perilaku Konsumen dalam Pembelian Bakso di Malang
belian erat kaitannya dengan tingkat pendapatan
seseorang dan pengeluaran seseorang. Semakin
tinggi tingkat pendapatan seseorang cenderung
semakin tinggi pula pengeluaran yang dilakukan.
Faktor karakteristik konsumen memiliki persentase
varian sebesar 4,708% dan merupakan
urutan kedelapan yang dipertimbangkan oleh konsumen
karena mempunyai nilai Eigen Value terbesar
yaitu 1,036. Variabel demografi sudah pasti
memiliki factor loading terbesar karena variabel
demografi merupakan variabel satu-satunya yang
diwakili faktor karakteristik konsumen yaitu sebesar
0,767 yang artinya bahwa variabel demografi memiliki
korelasi yang sangat kuat terhadap faktor
karakteristik konsumen.
Demografi konsumen didekati dengan
variabel-variabel seperti usia, jenis kelamin, pendidikan,
dan pendapatan. Responden wanita
cenderung lebih senang berbelanja, mudah terpengaruh
oleh emosi, dan menyukai jajan atau
makanan camilan.
Kesimpulan
Sebagian besar responden yang melakukan
pembelian bakso adalah perempuan, berstatus
pelajar, mempunyai umur di bawah 35 tahun,
pendapatan individu yang diperoleh antara
Rp. 1.000.000,00 sampai Rp. 2.000.000,00 per
bulan dan harga bakso Rp. 5.000,00 seporsi dapat
dikategorikan terjangkau. Pola mengkonsumi bakso
bukan sebagai makanan pokok tetapi sebagai
kuliner, hobi, dan makanan camilan. Delapan faktor
yang dipertimbangkan responden secara berurutan
adalah harga, kelas sosial, kemudahan mencapai
lokasi, parkir, tampilan penyajian, kepuasan, pendapatan,
dan demografi.
Daftar Pustaka
Asseal, H. 1992. Consumer Behavior and
Marketing Action. New York: PWS-KENT.
Publishing Company, Boston.
Hermanianto, J. dan R.Y. Andayani. 2002. Studi
perilaku konsumen dan identifikasi parameter
bakso sapi berdasarkan preferensi konsumen
di wilayah DKI Jakarta. Jurnal Teknologi dan
Indutri Pangan 13(1): 1-10.
Parubak, B., A. Thoyib, dan A. Suman. 2004.
Faktor faktor yang dipertimbangkan konsumen
dalam pembelian kain donggala di
Kotamadya Palu. Kumpulan Artikel Seminar
Hasil Penelitian. Bidang Kajian Perilaku
Konsumen. Program Magister Manajemen.
Pascasarjana, Universitas Brawijaya. Malang.
Hal. 1-12.
Sudarmiatin. 2009. Model perilaku konsumen
dalam perspektif teori dan empiris pada jasa
pariwisata. Jurnal Ekonomi Bisnis 14(1): 1-
11.
Sulistyawati, E. 2004. Analisis faktor faktor yang
mempengaruhi perilaku konsumen dalam
keputusan pembelian produk patung kayu
pada toko kerajinan di Kecamatan Sukawati,
Gianyar, Bali. Kumpulan artikel Seminar
Hasil Penelitian. Bidang kajian Perilaku
Konsumen. Program Magister Manajemen
Universitas Brawijaya Malang. Hal. 67-84.
Tedjakusuma, R., S. Hartini, dan Muryani. 2001.
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku konsumen dalam pembelian air
minum mineral di Kotamadya Surabaya.
Jurnal Penelitian Dinamika Sosial 2(3): 48-
58.
Tarwotjo, I., S. Hartini, S. Soekirman, dan
Soekarno. 1971. Komposisi Tiga Jenis
Bakso. Akademi Gizi, Jakarta.
142

Analisis Jurnal  


Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik dan faktor yang mempengaruhi pembelian
bakso sapi di Malang. Penelitian dilakukan di Malang, Jawa Timur pada bulan Maret 2011. Jumlah responden sebanyak 120 konsumen yang dipilih secara acak. Data dianalisis dengan cara deskriptif dan analisis faktor. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden melakukan pembelian bakso adalah perempuan, berstatus pelajar, mempunyai umur di bawah 35 tahun, pendapatan individu yang diperoleh antara Rp. 1.000.000,00 sampai Rp. 2.000.000,00 per bulan dan harga bakso dikategorikan terjangkau oleh konsumenyaitu dengan harga 5.000 setiap porsinya. Pola mengkonsumsi bakso bukan sebagai makanan pokok tetapi sebagai kuliner, hobi, dan makanan camilan. Delapan faktor yang dipertimbangkan responden secara berurutan adalah harga, kelas sosial, kemudahan mencapai lokasi, parkir, tampilan penyajian, kepuasan, pendapatan, dan demografi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar